
Filosofi Jawa mengatakan, telinga berdenging memiliki banyak arti. Ada yang mengatakan bahwa yang bersangkutan sedang dipergunjingkan orang. Ada yang mengatakan bahwa itu adalah peringatan dari Tuhan tentang kesalahan yang telah diperbuatnya. Banyak filosofi yang membuat ibu semakin bingung. Segala kegiatan yang "beresiko", satu persatu di tanggalkannya. Mulai dari bendahara BOS di Sekolah tempat beliau kerja, sampai pada Bendahara PKK di kampungnya. Meski ibu dikenal "jujur" sehingga menjadi bendahara dimana-mana, tetap saja ia takut menjalankan lagi pekerjaan beresiko itu.. Takut mendapat peringatan yang "lebih" lagi dari Tuhan setelah telinga berdenging itu.
Suatu hari ketika aku mengunjunginya, ibuku terlihat makin kusut. Berat badannya menurun sampai 5 kg. Wajahnyapun jarang sekali tersenyum, padahal di hari-hari biasa, beliau adalah orang yang selalu berusaha membawa keceriaan dalam keluarga kami. Melihat kondisi tersebut, akupun mencoba menawarkan solusi untuk aku ajak ke Salatiga dan berobat kesana. Disana ada Rumah Sakit khusus THT yang cukup terkenal. Kalau tidak salah, namanya RS. ASYIFA. Dokternya Bu Sapartinah, salah satu dokter senior di Salatiga. Karena hasrat ingin sembuhnya sangat tinggi, ibupun menurut dibawah kemana saja. Dan akhirnya kamipun dibawah ke salatiga. Ibuku melakukan serangkaian tes medis dan akhirnya dokter sepuh itupun mengatakan "Bu.. Ibu ini sehat-sehat saja. Tidak sakit apa-apa". Ibuku pun tercengang dan mengatakan "Ndak sakit gimana Bu? Lha wong dengingan ini semakin keras saja..".
Dokter sepuh itupun menjelaskan dengan sabar.. Bahwa yang diderita ibuku itu namanya adalah PRESBIKUSIS. Itu adalah gangguan pendengaran usia tua. Bahkan dokter itupun mengatakan bahwa diapun telinganya berdenging. Tapi dia cuekin saja. Karena itu adalah gejala alamiah untuk orang usia lanjut. Seperti rambut kepala yang mulai memutih, kulit wajah yang mulai berkerut, bahkan juga punggung yang serasa mulai bongkok. Itu adalah gejala alamiah yang tidak perlu dirisaukan. Dokter itupun minta pada ibuku untuk "cuek saja" ketika dengingan itu muncul. Katanya "Bu, dengingan itu terasa semakin keras, karena ibu mencarinya. Ibu merasa-rasakan dengingan itu.. Sehingga yang terjadi adalah bahwa dengingan itu seperti semakin keras saja. Ibu harus cuek.. Sabar.. Maka lama-lama denginan itu akan seperti tidak terdengar..". Meski masih terasa mengganjal, namun lambat laun ibu mulai bisa menerima saran-saran dokter.
Akupun mulai googling dengan kata kunci "Presbikusis". Dan ini adalah sekilas tentang hal tersebut. Presbikusis adalah gangguan pendengaran karena proses penuaan. Pada orang lanjut usia terjadi proses degeneratif pada organ pendengaran sehingga terjadi kemunduran sel-sel dan penurunan elastisitas membran. Disamping itu, terjadi pula gangguan pasokan darah pada otak sehingga orang lanjut usia akan mengalami gangguan pendengaran di mana yang pertama terkena adalah pendenagaran bunyi dengan nada tinggi selanjutnya diikuti dengan gangguan pendengaran bunyi nada rendah. Gejala klinis Presbikusis adalah pendengaran berangsur-angsur berkurang, bila suara diperkeras atau berteriak menyebabkan sakit telinga, sulit memahami percakapan terutama pada lingkungan bising, dapat mendengar tetapi tidak paham (diskriminasi ucapan), sulit mendengat nada tinggi “s” dan “th”, lebih mudah mendengar suara pria ketimbang wanita dan ada suara berdenging (tinnitus).
Lalu bagaimana mengatasi Presbikusis? Mungkin benar kata Dokter Sapartinah. "Cuekin saja". Karena itu adalah gejala alamiah yang tidak bisa dihindari semua orang. Seperti kita yang mencuekin rambut memutih dan kulit keriput saat usia mulai beranjak senja. Seperti juga kata Bondan Prakosa dalam Lagunya "YA SUDAHLAH".. Ibuku sayang, biarkan saja dengingan itu lewat.. Atau bahkan jadikan sahabat yang mengisi hari-hari.. Sulit memang.. Tapi ananda yakin, ibu pasti bisa.....